Minggu, 10 Agustus 2014

TAK ADA SALAHNYA MENJADI KRITIKUS 

Ki Ardasim Sunda Makalangan, 23 Desember 2012



Seiring dengan semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan kecerdasan manusia, telah mempengaruhi terhadap lahirnya generasi yang memiliki sikap mental kritis. Hal ini perlu di sikapi secara arif dan bijaksana, karena disuatu sisi dapat meningkatkan kualitas tatanan sosial yang semakin baik akan tetapi di sisi lain dapat pula mengakibatkan semakin rusaknya tananan sosial yang sudah ada.

Seseorang atau sekelompok orang yang memiliki sikap mental kritis umumnya selalu berkeinginan mencari kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sebuah sistem dan para pelaksana sistem itu. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya boleh-boleh saja mengkritik sebuah sistem, orang atau siapa pun, tapi dalam menyampaikan kritik, saran atau sebuah koreksi, sebaiknya mereka tetap menghormati orang yang kita kritik.  Karena itu dalam menyampaikan informasi yang sifatnya sebuah koreksi, sebaiknya  disamapikan dengan cara yang baik, ramah dan lembut. Jangan pernah menyampaikan dengan cara yang langsung menyudutkan dan menyalahkan, tapi kemukakanlah pendapat tersebut dengan cara yang baik, santun dan bijak.

Sebagai kritikus sejati pada sat menyampaikan kritiknya selalu berlandaskan pada tujuan dan motif yang benar. Dengan demikian tidak berdampak lebih buruk terhadap permasalahan yang sedang dikritisi. Bukankah tujuan mengkriktik itu untuk penyempurnaan?. Benarkah motif yang menjadi dasar kritik itu adalah nilai-nilai kebaikan?. Jika  Ya! tentunya akan menghasilkan seuatu yang lebih sempurna dan tidak akan menimbulakan perpecahan dalam tatanan sosial.

Manakala para kritikus hanya bertujuan untuk mengahncurkan orang atau sistem, serta motifnya hanya ingin mencari kesalahan semata demi meningkatkan popularitas dan ingin menunjukan dirinya lebih baik,  lebih pintar dan lebih sempurna, maka hal inilah yang sering kali menimbulkan dampak yang lebih buruk dan harus segera dihentikan. Bukankah mereka (para kritikus) juga manusia yang punya kekurangan dan kelemahan? Apakah mereka mampu berbuat lebih baik dari orang yang di kritik?. Semua ini perlu pembuktian. Jika mereka tak mampu membuktikan, kemudian merekapun akan dinistakan. Begitulah seterusnya. Saling merendahkan, saling menyalahkan, saling menyakiti, saling menghancurkan menjadi sesuatu yang tak bisa terelakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar