TAK ADA SALAHNYA MENJADI KRITIKUS
Ki Ardasim Sunda Makalangan, 23 Desember 2012
Seiring dengan semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan
kecerdasan manusia, telah mempengaruhi terhadap lahirnya generasi yang
memiliki sikap mental kritis. Hal ini perlu di sikapi secara arif dan
bijaksana, karena disuatu sisi dapat meningkatkan kualitas tatanan
sosial yang semakin baik akan tetapi di sisi lain dapat pula
mengakibatkan semakin rusaknya tananan sosial yang sudah ada.
Seseorang atau sekelompok orang yang memiliki sikap mental kritis
umumnya selalu berkeinginan mencari kelemahan-kelemahan yang terjadi
pada sebuah sistem dan para pelaksana sistem itu. Lihat saja betapa
mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya
boleh-boleh saja mengkritik sebuah sistem, orang atau siapa pun, tapi
dalam menyampaikan kritik, saran atau sebuah koreksi, sebaiknya mereka
tetap menghormati orang yang kita kritik. Karena itu dalam menyampaikan
informasi yang sifatnya sebuah koreksi, sebaiknya disamapikan dengan
cara yang baik, ramah dan lembut. Jangan pernah menyampaikan dengan cara yang langsung menyudutkan dan menyalahkan, tapi kemukakanlah pendapat tersebut dengan cara yang baik, santun dan bijak.
Sebagai kritikus sejati pada sat menyampaikan kritiknya selalu
berlandaskan pada tujuan dan motif yang benar. Dengan demikian tidak
berdampak lebih buruk terhadap permasalahan yang sedang dikritisi.
Bukankah tujuan mengkriktik itu untuk penyempurnaan?. Benarkah motif
yang menjadi dasar kritik itu adalah nilai-nilai kebaikan?. Jika Ya!
tentunya akan menghasilkan seuatu yang lebih sempurna dan tidak akan
menimbulakan perpecahan dalam tatanan sosial.
Manakala para kritikus hanya bertujuan untuk mengahncurkan orang atau
sistem, serta motifnya hanya ingin mencari kesalahan semata demi
meningkatkan popularitas dan ingin menunjukan dirinya lebih baik, lebih
pintar dan lebih sempurna, maka hal inilah yang sering kali menimbulkan
dampak yang lebih buruk dan harus segera dihentikan. Bukankah mereka
(para kritikus) juga manusia yang punya kekurangan dan kelemahan? Apakah
mereka mampu berbuat lebih baik dari orang yang di kritik?. Semua ini
perlu pembuktian. Jika mereka tak mampu membuktikan, kemudian merekapun
akan dinistakan. Begitulah seterusnya. Saling merendahkan, saling
menyalahkan, saling menyakiti, saling menghancurkan menjadi sesuatu yang
tak bisa terelakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar